Anyaman Bambu Tembus Pasar Nasional dan Global
- account_circle Redaktur Redaktur
- calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pluang.id – Peluang anyaman bambu kembali menemukan momentumnya. Di tengah tren produk ramah lingkungan dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, usaha perajin bambu di Desa Tegal Maja, Kabupaten Serang, Banten, tumbuh menjadi contoh konkret bagaimana tradisi bisa bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi modern.
Tema Bambu Collection, kelompok perajin yang dikelola Rini Purwati, lahir dari inisiatif Kepala Desa Tegal Maja, Muhamad Iksan. Ia mendorong keterampilan menganyam bambu yang sudah mengakar secara turun-temurun agar berkembang menjadi produk bernilai tambah dan relevan dengan selera pasar masa kini.
“Menganyam bambu di sini memang sudah jadi warisan. Dari dulu nenek moyang kami penganyam, bukan pelaut,” ujar Rini sambil berseloroh.
Dari Tradisi Desa ke Produk Bernilai Ekonomi
Tema Bambu Collection resmi terbentuk pada 2 Februari 2022, bertepatan dengan fase pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Sejak awal, kelompok ini membawa misi pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan, yang kini mendominasi barisan perajin.
Jumlah perajin berkembang pesat. Dari awalnya hanya 10 orang, kini lebih dari 30 perajin terlibat aktif. Mereka memproduksi beragam produk anyaman bambu, mulai dari keranjang, wadah serbaguna, hingga produk dekoratif. Keranjang bingkisan atau hampers menjadi produk paling diminati, terutama menjelang hari besar keagamaan dan momen perayaan.
Harga produk pun variatif, mulai dari Rp5.000 hingga Rp500.000, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Selain produk reguler, Tema Bambu Collection juga melayani pesanan khusus sesuai kebutuhan konsumen.
“Kami terbuka untuk desain custom. Itu justru jadi keunggulan kami,” kata Rini.
Dukungan Bahan Baku dan Akses Pasar
Untuk menjaga keberlangsungan produksi, Tema Bambu Collection membutuhkan sekitar 150 batang bambu setiap bulan. Seluruh bahan baku diperoleh dari wilayah sekitar Kecamatan Kragilan. Upaya keberlanjutan diperkuat melalui kolaborasi dengan Asia Pulp & Paper Sinar Mas melalui PT Indah Kiat Pulp & Paper.
IKPP Serang Mill menanam 1.000 bibit bambu sebagai bagian dari dukungan bahan baku berkelanjutan. Perusahaan tersebut juga mendorong ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali tali bekas untuk kebutuhan perajin. Tak berhenti di situ, dukungan pasar turut diberikan dengan memfasilitasi keikutsertaan Tema Bambu Collection dalam berbagai pameran UMKM.
Menjajaki Pasar Ekspor
Tema Bambu Collection telah tampil di sejumlah pameran nasional seperti Inacraft, Trade Expo Indonesia, hingga Tjipta UMKM Fair. Produk mereka kini dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Banten, Jakarta, dan Cikarang.
Lebih jauh, peluang anyaman bambu juga terbuka ke pasar internasional. Tema Bambu Collection mulai menjajaki ekspor dengan mengirimkan sampel produk ke Arab Saudi, Malaysia, dan Filipina melalui mitra pihak ketiga.
“Ada pelanggan kami yang memesan untuk dikirim ke negara-negara tersebut,” ujar Rini.
Kisah Tema Bambu Collection menunjukkan bahwa peluang anyaman bambu bukan sekadar romantisme tradisi. Dengan inovasi, kolaborasi, dan akses pasar yang tepat, kerajinan desa mampu bertransformasi menjadi produk berdaya saing nasional hingga global. (red)
- Penulis: Redaktur Redaktur

Saat ini belum ada komentar